Menara Setan Muncul Dari Dasar Bumi

Pada akhir zaman dinosaurus, tekanan dari dalam bumi dipaksa naik ke atas yang menciptakan Black Hills, Pegunungan Rocky, dan Menara Setan. Sementara legenda suku Indian kuno menceritakan tentang tujuh gadis yang memohon dan dibawa menjadi bintang Plediades.

Cerita-cerita yang dipaparkan banyak penulis tentang Menara Setan, banyak menggambarkan mitologi kuno dan mistis. Seperti ‘Devil’s Tower‘ karya Mark sumner yang lebih banyak menceritakan kisah mistis, sementara menurut ilmuwan, menara setan terbentuk jutaan tahun lalu ketika wilayah tersebut berada dibawah laut.

Menara Setan Muncul Dari Dasar Bumi

Legenda Menara Setan Menyimpan Harta Karun

Wilayah timur laut Wyoming terdapat gunung bebatuan beku yang terlihat seperti ‘tunggul pohon raksasa‘, dengan ketinggian lebih dari seribu meter. Secara vertikal batu ini memiliki goresan raksasa, penduduk berkulit putih menyebutnya Menara Setan (Devils Tower). Sementara suku Indian menyebutnya dengan berbagai nama, diantaranya ‘Bear Lodge‘.

Mungkin legenda menara setan yang paling banyak dikenal penduduk asli Amerika. Seperti legenda yang diceritakan oleh Kiowa, ada tujuh gadis bermain di dekat desa mereka ketika mereka dikejar oleh beberapa beruang. Gadis-gadis itu melompat di atas batu rendah dan memohon;

“Batu, kasihanilah kami, batu selamatkan kami!”

Batu itu mendengar mereka, hidup seperti tanaman yang tumbuh drastis. Beruang-beruang yang mengejar mereka melompat di batu dan menggaruk (mencakar-cakar) bebatuan, tapi tidak bisa mendaki. Menara setan membawa tujuh gadis ke tempat tertinggi sehingga mereka menjadi bintang, konstelasi yang disebut Plediades.

Dahulu, penduduk dari bagian timur laut Wyoming mengunjungi Yankton, Dakota Selatan. Disana dia menunjukkan gambar menara setan kepada beberapa suku Indian Sioux yang ditemuinya, salah satunya sangat bersemangat ketika melihat gambar tersebut dan bertanya: “Apakah ada jalan menuju dasar menara setan?“. Penduduk itu menjawab tidak, dan pria itu tampak kecewa. Dengan sedikit desakan, dia menyampaikan legenda menara setan.

Sebelum tiga pemberani berburu dekat menara setan, mereka menjelajahi bebatuan di dasar gunung dan menemukan sebuah lorong di bawahnya. Mereka membuat obor dari pinus dan mulai menjelajahi terowongan. Mereka menemukan bagian berserakan dengan tulang manusia. Terowongan itu menuju sebuah gua yang memiliki danau bawah tanah berukuran sekitar 25 meter, dan disana terdapat emas, harta karun dengan jumlah yang sangat besar.

Para pemburu tidak siap untuk mengambil emas itu, mereka meninggalkan terowongan dan menyembunyikan pintu masuk harta karun sehingga orang lain tidak akan menemukannya. Mereka berniat kembali untuk mendapatkan emas di lain waktu, tapi tidak pernah melakukannya. Salah satu pemburu, sebelum kematiannya menceritakan kisah itu kepada anggota lain dari sukunya dan kisah itu telah diwariskan selama beberapa generasi suku Indian kuno.

Di sisi lain, Black Hills merupakan wilayah di mana menara setan berdiri. Disini terdapat beberapa gua terbesar di bawahnya, termasuk Wind Cave dan Jewel Cave. Daerah Black Hills juga dikenal sebagai pertambangan emas, jadi, ada beberapa kebenaran cerita legenda menara setan. Mungkin gua yang hilang tidak di bawah menara setan, tetapi di dekatnya.



Fenomena Alam Terbentuknya Menara Setan

Ketinggian menara setan sekitar 1.267 meter dekat dengan Sungai Fourche Belle. Selama zaman dinosaurus, daerah ini pernah berada di bawah laut dangkal. Selama jutaan tahun, sedimen diendapkan di dasar laut dan akhirnya berubah menjadi batuan sedimen seperti batu pasir, serpih dan batulanau (siltstone). Pada akhir zaman dinosaurus (65 juta tahun lalu) tekanan dari dalam bumi dipaksa naik ke atas permukaan. Tekanan tersebut menciptakan Black Hills di dekatnya dan Pegunungan Rocky, juga memaksa batuan cair naik ke permukaan di lokasi menara setan.

Batu vulkanik plug terbentuk ketika gunung berapi punah dan batuan cair di dalam tabung yang membawa magma dari dalam bumi ke kawah gunung mendingin hingga membentuk batuan beku. Batu dalam tabung biasanya jauh lebih keras daripada bagian gunung lainnya. Angin, dan hujan kemudian mengikis gunung hingga batu vulkanik plug terbuka. Sebagian besar bukti menunjukkan bahwa menara setan bukanlah sisa-sisa gunung berapi yang punah. Tidak ada jejak fenomena geologi di daerah sekitarnya yang terkait dengan gunung berapi, seperti abu atau aliran lava.

Teori yang lebih mungkin menyatakan bahwa menara setan terbentuk akibat laccolith. Laccolith merupakan intrusi magma panas dari dalam bumi yang tidak pernah mencapai permukaan. Hal ini mendorong terbentuknya tonjolan batuan sedimen di atasnya, namun tidak ada kaldera atau kawah yang terbentuk. Batuan cair dingin dan batuan sedimen lembut di tonjolan kemudian terkikis, dan batuan keras beku terbuka. Jika hal ini terjadi, menara setan mungkin terbentuk antara satu hingga dua juta tahun lalu.

Menara setan terdiri dari Phonolite Porphyry, sebuah batuan beku abu-abu atau kehijauan dengan kristal Feldspar yang tertanam di dalamnya. Seperti tanah di sekitar menara yang terus terkikis, tidak kebal terhadap erosi itu sendiri. Batu-batu yang berserakan di sekitar dasar menara setan merupakan sisa-sisa dari formasi yang jatuh dan terkikis dari waktu ke waktu.


Read more: http://ceritapendekhoror.blogspot.com/2012/10/menara-setan-muncul-dari-dasar-bumi.html#ixzz2AqRK2uQF

Mengungkap Asal Usul Patih Gajah Mada yang Misterius

  • detail berita



Kisah kitab Sihir Calonarang

Kisah Kitab Sihir Calon Arang Part I

Di Kerajaan Kediri semasa pemerintahan Airlangga, di Desa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Sihir yang dipimpin seorang janda Dayu Datu. Dia dikenal pula dengan nama Calon Arang. Murid-muridnya semua perempuan. Di antara semua muridnya, ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong senior. Mereka adalah: Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa. 

Ibu Calon Arang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali, berparas cantik jelita. Tetapi, putrinya ini tidak ada satupun pemuda yang melamarnya. “Orang-orang Kediri berkasak-kusuk, Diah Ratna Mangali tidak ada yang melamar karena diduga bisa ngeleak. Hal ini didasarkan pada hukum keturunan, yaitu: kalau ibunya bisa ngeleak. Anaknya pun mewarisi ilmu leak itu,” begitulah pengaduan dari Nyi Larung—salah satu murid terpercaya Ibu Calon Arang.

Mendengar pengaduan tersebut, tampak napas Ibu Calon Arang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calon Arang dan mendidih, terasa muncrat dan tumpah ke otak. Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Ibu Calon Arang menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri. Ibu Calon Arang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak. “Nyi Larung, penghinaan ini bagaikan air kencing dan kotoran ke wajah dan kepalaku. Aku akan membalas semua ini, rakyat Kediri akan hancur lebur, dan luluh lantak dalam sekejap. Semua orang-orangnya akan mati mendadak. Laki-laki, perempuan, tua muda, semuanya akan menanggung akibat dari fitnah dan penghinaan ini. Kalau tidak tercapai apa yang aku katakan ini, maka lebih baik aku mati, percuma jadi manusia. Kalau Ibu Calon Arang ini tidak melakukan balas dendam, maka hati ini tidak akan merasa tentram.”

Nyi Larung kemudian menyahut dan bertanya “Kalau demikian niat Guru, bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut.” 

Segera dijawab oleh Ibu Calon Arang. “Nyi Larung, ketahuilah, jangan terlalu khawatir akan segala kemampuanku. Ibu Calon Arang bukanlah orang sembarangan dan murahan. Kalau tidak yakin dengan diri sendiri, aku takkan sesumbar. Biar mereka tersebut merasakan akibat dari segala perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap anakku. Kau Nyi Larung, Ibu minta agar kau mengumpulkan semua murid-muridku supaya segera masuk ke Pasraman Pengeleakan. Tunggu sampai tengah malam nanti. Aku akan menurunkan segala ilmu kewisesan yang aku miliki kepada kalian semua. Karena sekarang hari masih terang dan sore, lebih baik engkau semua melakukan pekerjaan seperti biasanya. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita akan berkumpul lagi membicarakan masalah tersebut, dan ingat tidak ada yang boleh tahu mengenai apa yang kita akan lakukan ini. Kita akan buat Kerajaan Kediri gerubung (serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat, red. ).” 

Demikian Ibu Calon Arang menutup pembicaraannya pada sore hari tersebut, dan semua kembali melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.



Gerubug Di Kerajaan Kediri

Diceritakan Rakyat Kerajaan Kediri di siang harinya yang ramai seperti biasanya. Masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani di sawah dengan menanam padi dan palawija. Anak-anak muda semuanya riang gembira bermain sambil mengembalakan sapi dan bebek di sawah. Mereka riang gembira, menemani orang tuanya yang sedang membajak sawah. Ada pula masyarakat yang bekerja sebagai tukang membuat rumah, pondok, bangunan suci seperti pura dan sanggah, atau membuat angkul-angkul atau pintu gerbang, dan lain-lain. Bagi kaum perempuan dan yang bekerja sebagai pedagang dengan menjual kue, nasi, kopi dan ada pula yang menenun kain untuk keperluan sendiri. Ada pula dari golongan pande bekerja khusus membuat perabotan pisau, sabit, parang, cangkul, keris, dan perabotan dari besi lainnya. Bagi yang mempunyai waktu luang yang laki-laki biasanya diisi dengan mengelus-elus ayam aduan, dan bagi yang perempuan digunakan untuk mencari kutu rambut.

Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. Pada malam hari masyarakat yang senang bernyanyi melakukan kegiatannya sampai malam. Demikian pula dengan seka gong latihan sampai malam di Balai Banjar. Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.

Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. Suasananya menjadi sangat gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Karena, hari itu dianggap sebagai hari yang angker. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.

Ketika penduduk rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para murid Ibu Calon Arang yang sudah menjadi leak datang ke desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Sinar beraneka warna bertebaran di angkasa. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa. Ketika itu, penduduk desa sedang tidur lelap. 

Dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah. Angin dingin yang tadinya mendesir sejuk, tiba-tiba hilang dan menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. Lolongan anjing saling bersautan seketika. Demikian pula suara goak atau burung gagak terdengar di tengah malam. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.

Endih atau api jadi-jadian yang berjumlah banyak di angkasa, kemudian turun menuju jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk desa. Api sebesar sangkar ayam mendarat di perempatan jalan desa, dan diikuti oleh api kecil-kecil warna-warni. Setelah itu para leak yang tadinya terbang berwujud endih, kemudian setelah di bawah berubah wujud menjadi leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan-jalan desa. Ketika malam itu, ada seorang masyarakat memberanikan diri untuk mengintip dari balik jendela rumahnya. Untuk mengetahui situasi di luar rumah. 

Namun apa yang dilihatnya? Sangat terkejut orang tersebut menyaksikan kejadian di luar. Orang tersebut, karena saking takutnya, segera ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat, serta segera memohon kehadapan Hyang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan. Kemudian orang tersebut mengalami sakit ngeeb atau ketakutan yang berlebihan dan tidak mau bicara.

Para murid atau sisya Ibu Calon Arang yang berjumlah tiga puluh empat orang ditambah dengan empat orang muridnya yang sudah senior yaitu Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa, semua sudah berada di desa pesisir. Malam yang sangat gelap kemudian ditambah dengan hujan gerimis yang memunculkan bau tanah yang angid, mambuat para leak menjadi semakin bersuka ria. Beberapa bola api bertebaran di angkasa berkejar-kerjaran dan menari-nari. Monyet-monyet besar, anjing bulu kotor, dan babi bertaring panjang berkeliaran di jalan-jalan sepanjang desa wilayah pesisir bercanda bersuka ria. Leak kambing, gegendu kerbau, gegendu jaran tampak jalan-jalan mengitari Kerajaan Kediri. 

Demikian pula dengan sosok Leak Celuluk yang berkelebat-kelebat dan bersandar di angkul-angkul rumah penduduk. Leak yang berwujud kreb kasa atau kain putih panjang bergulung-gulungan tampak melintang di jalanan. Di perempatan dan pertigaan jalan Desa, sosok Leak berwujud bade atau menara pengusungan mayat sedang menari-nari memenuhi jalanan. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya yakni Ibu Calon Arang.

Sungguh-sungguh seram memang pada malam itu. Penduduk desa tidak ada yang berani berkutik, apalagi keluar rumah. Para leak di malam itu telah menyebarkan penyakit gerubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Setelah semalaman para leak berpesta pora, maka hari telah menjelang pagi. Tiba saatnya para Leak untuk kembali ke wujud semula. Karena begitulah hukumnya sebagai leak. Waktu mereka ada di malam hari. Apabila, mereka melanggar hukum tersebut maka mereka akan mendapatkan bahaya. Ketika hari menjelang pagi para leak pun kembali ke tempatnya semula, dan pulang ke rumah. Demikian pula dengan Ibu Calon Arang beserta Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi dan Nyi Sedaksa kembali pulang ke rumah setelah pesta pora di malam hari. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu hasil dari kerja mereka semalam.

Diceritakan keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Mereka ramai menceritakan keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang terjadi pada malam harinya. Semuanya menceritakan apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka sempat saksikan malam itu di rumah masing-masing. Namun sedang asyiknya mereka bercerita, tiba-tiba saja ada seorang penduduk yang menjerit minta tolong. Orang tersebut mengatakan salah seorang keluarganya tiba-tiba saja sakit perut, muntah-muntah, dan mencret-mencret. Ketika mau memberikan pertolongan kepada penduduk di sebelah barat tersebut, tiba-tiba saja tetangga di sebelah timur menjerit minta tolong ada salah seorang keluarganya yang muntah dan mencret. 

Pagi itu, masyarakat desa menjadi panik. Karena mendadak sebagian penduduk mengalami muntah dan mencret. Bahkan pagi itu, ada beberapa yang telah meninggal. Beberapa lagi belum ada yang sempat diberi obat, tiba-tiba sudah meninggal. Demikian semakin panik masyarakat di desa. Segera saja yang meninggal dikuburkan di setra atau tempat pemakaman mayat, namun ketika pulang dari setra, tiba-tiba saja yang tadinya ikut mengubur menjadi sakit dan meninggal. Demikian seterusnya. 

Penduduk desa dihantui oleh bahaya maut. Seolah-olah kematian ada di depan hidung mereka. Sungguh mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri ketika itu. Kerajaan Kediri gempar, sehari-hari orang mengusung mayat kekuburan dalam selisih waktu yang sangat singat.

Menghadapi situasi demikian beberapa penduduk dan prajuru desa mencoba untuk menanyakan kepada para balian atau dukun untuk minta pertolongan. Para balian pun didatangkan ke desa-desa yang kena bencana wabah gerubug. Ternyata mereka juga tidak dapat berbuat banyak menghadapi penyakit gerubug yang dialami penduduk desa. Bahkan, si balian atau dukun yang didatangkan tersebut mengalami mutah berak dan meninggal. 

Setiap hari kejadian tersebut terus berlangsung. Penduduk desa menjadi bingung dan panik. Ada yang berkehendak untuk mengungsi dan menghindar dari gerubug tersebut. Mereka berbondong-bondong meninggalkan desanya. Namun ketika sampai di batas desa, mereka itu mengalami muntah berak dan meninggal seketika. Melihat keadaan seperti itu penduduk yang masih hidup menjadi semakin ketakutan. Ketika malam hari, mereka semua tidak ada yang berani tidur sendirian, dan tidak berani keluar rumah. Lolongan anjing tak henti-hentinya di malam hari. Burung gagak, katak dongkang, semuanya ribut saling bersahutan.

Adanya musibah yang menakutkan bercampur dengan sedih, para penduduk mencoba untuk berpasrah diri dan menyerahkan semuanya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi. Setiap saat mereka memuja dan memohon ke hadapan beliau agar bencana gerubug ini segera berakhir, dan semua penduduk yang masih hidup diberkahi keselamatan dan kekuatan. Di samping itu, perlindungan-perlindungan magis dipasang di depan pintu masuk pekarangan dan pintu rumah. Sesuai dengan petunjuk orang pintar atau sesuai dengan kebiasaan para tetuanya terdahulu. Penduduk memasang sesikepan atau pelindung magis. Seperti, daun pandan berduri yang ditulisi tapak dara atau tanda palang dari kapur sirih, berisi bawang merah, bawang putih, jangu, juga benang tri datu yaitu benang warna merah, putih, hitam, dan pipis bolong atau uang kepeng. Jadi pada dasarnya semua dilakukan untuk menolak penyakit, dan memohon perlindungan kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Setelah berberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan dan ketakutan, akhirnya para prajuru desa atau Pengurus Desa, para penglingsir atau tetua, dan para pemangku, mengadakan pertemuan di salah satu Balai Banjar di Desa Girah. Pada intinya, mereka membicarakan mengenai masalah atau penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Kalau seandainya masalah ini dibiarkan begitu saja, sudah pasti penduduk desa akan habis semuanya.

Mereka tetap berharap agar semua masyarakat meningkatkan astiti bhaktinya atau pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan agar diberikan keselamatan, kesehatan, perlindungan, dan umur panjang. Di samping itu, pula para prajuru desa para penglingsir atau tetua desa beserta dengan para pemangku sepakat untuk melaporkan masalah ini ke hadapan Prabu Airlangga Raja Kediri. Mereka berencana memohon kehadapan Raja Airlangga agar beliau berkenan untuk datang ke desa-dewa wilayah pesisir Kerajaan Kediri meninjau rakyatnya yang sedang ditimpa musibah penyakit atau gerubug. Karena, beliau sebagai penguasa atau sebagai Raja Kediri berhak tahu dan wajib untuk melindungi rakyatnya dari bencana. Demikian kesepakatan mereka dan merencanakan akan berangkat ke Istana besok pagi.

Ketika para tetua desa dan prajuru disertai dengan para pemangku masih berada di Bale pertemuan, tiba-tiba saja muncul seseorang yang bertubuh tinggi, kepala kribo, berkumis tebal dan brewok. Orang ini berjalan sempoyongan, dengan mata merah, dan bicaranya ngawur. Rupanya orang ini dalam keadaan mabuk. Orang tersebut datang di bale pertemuan dan berkata bahwa anaknya telah meninggal karena muntah mencret. Pemabuk itu kemudian berkata, “Mana Leak Calon Arang yang telah memakan anakku, akan aku santap bola matanya mentah-mentah.” Demikian orang tersebut sesumbar di hadapan para sesepuh desa. Ketika setelah mengatakan sesumbar tersebut Si Brewok tiba-tiba saja muntah mencret tak tertahankan, dan akhirnya tewas di tempat.

Setelah beberapa saat Si Brewok tergeletak, kemudian para tetua desa tersebut menjadi teringat dengan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu ketika di Desa Girah. Mereka baru ingat bahwa Si Brewok inilah biang keladi dari kejadian yang menimpa Diah Ratna Manggali anak Ibu Calon Arang. Bersama-sama dengan orang banyak, Si Brewok ini telah membuat fitnah Diah Ratna Mengali bisa ngeleak. Karena Ibunya adalah orang sakti yang bisa ngeleak. Jangan-jangan hal itu yang menjadi penyebab dari penyakit gerubug yang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri sekarang ini. Karena, Calon Arang merasa tersinggung dan terhina tidak akan tinggal diam. Mungkin saja, dia akan membalas dendam sesuai dengan kemampuannya. Apalagi Calon Arang adalah seorang yang sangat sakti dan memiliki murid yang sangat banyak. Sehingga, dengan ilmu yang dimiliki mereka mencoba untuk menghancurkan desa-desa di Kerajaan Kediri dengan menebar penyakit gerubug. Rupanya mereka yang ada di sana mempunyai pikiran yang sama, dan sepakat untuk segera melaporkan hal tersebut ke hadapan Prabu Airlangga, Raja Kediri.

Keesokan harinya para prajuru desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kediri. Sangat cepat perjalanan mereka, sehingga tidak diceritakan sampailah rombongan tersebut di bencingah atau alun-alun Istana Raja. Ketika di Istana rombongan tersebut menyaksikan suatu keadaan yang tenang, damai, dan biasa saja, jauh dari kesusahan, kalau dibandingkan dengan apa yang terjadi di desa sekarang ini. Di bencingah puri tampak sekelompok masyarakat yang sedang duduk-duduk di bawah rimbunnya daun beringin yang sangat besar yang tumbuh di becingah, seolah-olah memayungi rakyat Kediri dari terik sinar matahari. Bangsingnya atau akarnya yang menjulur sampai menyentuh tanah seolah-olah menjulurkan tangannya untuk menolong rakyat Kediri yang kesusahan. Mereka seperti biasa yang laki-laki beristirahat, sambil mengecel atau mengelus ayam aduan. Di sampingnya, tampak berderet ayam aduan dengan beraneka warna, dan mekruyuk atau berkokok saling bersahutan. Di sana, ada pula dagang kopi, dagang kue, dagang nasi, dengan be guling nyodog atau babi guling yang utuh dan diletakkan di atas meja dagangan.

Rombongan tersebut disapa oleh orang-orang yang ada di bencingah. Mereka kemudian segera masuk ke dalam Istana Raja melalui pemedalan atau pintu keluar candi bentar yang megah, disandingkan dengan bale kulkul yang menjulang tinggi, dan bale bengong yang tampak mempesona, membuat mereka menjadi klangen atau kagum. Di hulu sebelah timur laut terdapat pemerajan puri atau tempat suci keluarga Raja yang sangat disucikan.

Mereka kemudian menghadap Prabu Airlangga di Bale penangkilan atau balai penghadapan. Setelah memberikan penghormatan kehadapan Sang Prabu, rombongan tersebut kemudian menjelaskan segala sesuatu maksud dan tujuannya mengahap ke Istana. Dijelaskan pula secara panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Mereka kemudian memohon agar Sang Prabu berkenan untuk meninjau ke desa-desa. Demikian hatur mereka semua kehadapan Sang Prabu. Kemudian Sang Prabu menjawab dengan kata-kata yang agak berat, dan dengan roma muka yang agak tegang ketika itu.

“Kalau begitu keadaannya, penyebar gerubug di desa-desa wilayah pesisir tidak lain dan tidak bukan adalah Ibu Calon Arang. Aku tidak akan meninjau ke desa lagi. Tetapi, aku akan segara berupaya untuk menyelesaikan masalah kalian, dan menghadapi Calon Arang yang sakti tersebut. Pengerusakan dan penyebaran penyakit di desa-desa oleh Calon Arang sebenarnya adalah tantangan langsung bagiku sebagai penguasa di Kerajaan Kediri. Aku akan menghadapi bagaimanapun ririh atau saktinya Calon Arang. Calon Arang sangat berani kepadaku, dan sangat besar dosanya karena telah membunuh banyak rakyatku yang tidak berdosa. Sangat besar dosanya terhadap kerajaan, sehingga orang tersebut harus mendapatkan ganjaran hukuman yang setimpal”. Demikian sabda Raja Kediri yang menabuh genderang perang terhadap Calon Arang.

Sang Prabu juga menyampaikan pesan kepada rombongan Desa Girah sesampai di rumah nanti, beritahukan kepada seluruh rakyatku semuanya. Tenanglah, bersabarlah dan selalulah memuja kebesaran Ida Betara Tri Sakti yang berstana di Pura Kayangan Tiga. Selalu berjaga-jagalah di perbatasan desa sambil menghidupkan api obor sebagai penerangan dan sekaligus mohon perlindungan kehadapan Hyang Betara Brahma. Sebelum itu jangan lupa menghaturkan canang atau sesajen di sanggah atau tempat suci keluarga masing-masing agar para leluhur kita juga ikut membantu melindungi dari bahaya ini. Kemudian mohonlah sesikepan atau sarana magis yang bersarana bawang putih, jangu, benang tri datu, dan pipis bolong, sebagai sarana penolak leak. Demikian perintah dan sekaligus pesan Raja Kediri kepada rakyat beliau yang sedang ditimpa bencana gerubug, selanjutnya para penghadap tersebut diizinkan untuk pamit kembali pulang. Tidak diceritakan perjalanan mereka, maka sampailah rombongan tersebut di rumah, dan segera memberitahukan apa yang menjadi titah Raja Kediri.



Raja Kediri Murka

Kembali diceritakan Prabu Airlangga Raja Kediri. Sepeninggalan rombongan Desa Girah, maka beliau sendirian duduk termenung di bale penangkilan. Pandangannya menerawang jauh ke mana-mana, tangannya dikepalkan, dan tampak gelisah. Duduk bangun, demikianlah Sang Prabu sendirian di Istana. Tampaknya Sang Prabu tak kuasa menahan amarah dan panas hati beliau akibat ulah Calon Arang. Sangat menakutkan sekali perangai beliau ketika itu. Diibaratkan macan gading atau harimau kuning yang akan menerkam mangsanya. Tak seorang pun parekan atau punakawan di puri atau istana yang berani menyapa beliau. Istri dan parekan atau punakawan di puri atau istana semuanya terdiam takut melihat gelagat Sang Prabu yang lagi murka. Tidak ada yang berani menghampiri dan menemani beliau ketika itu. Suguhan wedang atau kopi dan juga hidangan yang lainnya tidak disentuh sama sekali. Pikiran beliau hanya tertuju kepada upaya bagaimana mengalahkan Calon Arang yang sakti tersebut.

Ketika hari menjelang siang, Sang Prabu belum juga beranjak dari tempat beliau duduk sejak pagi. Kemudian secara tak disangka-sangka datang Ki Patih Madri menghadap Sang Prabu ke Istana. Ia adalah seorang tabeng dada atau pengawal Istana. Ki Patih Madri berperawakan tinggi besar, pintar ilmu silat atau bela diri, dan menguasai beberapa ilmu kanuragan. Ia sangat berpengaruh di kalangan orang-orang di Kerajaan Kediri. Namun, ia sendiri berpenampilan sangat sederhana, polos, dan sangat setia kepada Istana terutama ke hadapan junjungannya yakni Prabu Airlangga Raja Kediri.

Sangat gembira sekali perasaan Sang Prabu ketika Ki Patih Madri muncul di Istana, dan segera Sang Prabu menyuruhnya mendekat untuk diajak bertukar pikiran. Bagaikan diperciki embun pagi yang sejuk perasaan Raja Airlangga ketika Ki Patih Madri datang pada saat yang diperlukan sekali. 

Sambil menikmati hidangan kopi yang telah disuguhkan, Sang Prabu berkata kepada Ki Patih Madri, “Aku hari ini sangat kesal, marah dan bercampur sedih dalam hatiku. Yang menyebabkan adalah ulah onar Calon Arang yang telah menebar penyakit gerubug di desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. Banyak rakyatku yang sakit dan meninggal di sana. Ia ingin menghancurkan Kerajaan Kediri, serta menghancurkan kekuasaanku. Sekarang karena kebetulan sekali Patih Madri datang ke Istana, maka aku ingin mendapatkan masukan dari engkau mengenai masalah yang menimpa desa tersebut. Bagaimana caranya menumpas dan melenyapkan Calon Arang beserta sisya-sisyanya atau murid-muridnya yang telah berbuat onar tersebut. Sebab kalau tidak ditangani segera, maka rakyat desa Kerajaan Kediri akan habis, bahkan ia akan merencanakan untuk menghancurkan Kerajaan Kediri secara keseluruhan.” Demikian kata pembukan yang cukup panjang dari Sang Prabu kepada Ki Patih Madri.

Mendengar semua itu, merasa kaget Ki Patih Madri, sebab sebelumnya ia sama sekali tidak mendengar adanya masalah ini. Ki Patih Madri berpikir sejenak, kemudian menjawab apa yang dikatakan Sang Prabu. “Mohon ampun Paduka, tidak patut rasanya hamba sebagai patih yang jugul punggung atau sangat bodoh memberikan masukan kehadapan Paduka. Namun atas titah Paduka, maka hamba akan mencoba untuk ikut urun pendapat mengenai masalah ini. Namun, hamba bagaikan nasikin segara atau membuang garam ke laut begitulah ibaratnya.” 

Lebih lanjut Ki Patih Madri menyampaikan haturnya ke hadapan Sang Prabu, “Kalau mendengar tingkah laku Calon Arang tersebut, maka inilah yang disebut dalam sastra agama sebagai Atharwa yang artinya melakukan pembunuhan yang sangat kejam terhadap orang lain yang tidak berdosa dengan menggunakan Ilmu Hitam. Mereka telah menebar cetik atau racun niskala di wilayah desa. Ini pula digolongkan sebagai Himsa Karma yakni perbuatan membunuh makhluk lain secara sewenang-wenang. Para pelaku dari semua ini harus dihukum berat dan setimpal. Kemudian, Ki Patih Madri menambahkan haturnya sekarang Paduka jangan terlalu bersedih dan khawatir. Hamba akan menjalankan Swadharmaning Kawula (kewajiban sebagai rakyat) bersama dengan rakyat Kediri yang lainnya. Hamba akan mengabdikan jiwa dan raga hamba untuk Kediri. Kita akan gempur Calon Arang Rangda Nateng Girah, kita hancurkan antek-antek, dan kita musnahkan Calon Arang.” Demikian Ki Patih Madri memompa semangat junjungannya. Sungguh lega hati Sang Prabu mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Patih Madri.

Raja Airlangga kemudian membuat keputusan untuk menggempur Calon Arang Rangda Nateng Girah, dan mempercayakan kepada Ki Patih Madri sebagai pimpinan penyerangan.

Gugurnya Ki Patih Madri

Diceritakan Ki Patih Madri telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kewisesan. Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah menggempur Calon Arang di malam hari.

Waktu yang ditetapkan untuk penyerangan telah tiba. Menjelang tengah malam mereka berangkat bersama dilengkapi pula dengan senjata tajam, sesikepan, gegemet-gegemet, dan juga sesabukan atau sarana magis pelindung diri.

Karena kesaktian Calon Arang, maka serangan dari pihak Kediri yang dipimpin Ki Patih Madri telah diketahui sebelumnya. Sehingga, Calon Arang memerintahkan kepada seluruh sisya-sisyanya atau murid-muridnya untuk bersiaga di perbatasan Desa Girah. Calon Arang beserta sisyanya telah bersiaga menyambut kedatangan para jawara Kediri yang akan menggempurnya. Mereka telah menggelar semua ilmu yang dimiliki dan telah menyengker atau memagari Desa Girah dengan penyengker gaib. Sehingga, kekuatan musuh tidak dapat menembus pertahanan tersebut.

Pada tengah malam, sampailah Ki Patih Madri dan para jawara Kediri di perbatasan Desa Girah. Mereka langsung menggelar ajian yang mereka miliki dan menyerang musuh yang telah menghadang. Serangan tersebut kemudian dihadang oleh para murid Calon Arang yang dipimpin oleh Nyi Larung. Sehingga, terjadilah pertempuran ilmu kanuragan di malam hari yang sangat dasyat. Bola-bola api beterbangan di antara kedua belah pihak. Taburan cahaya gemerlapan aneka warna di angkasa yang saling berkelebat, berkejar-kejaran, dan saling berbenturan. Langit di Desa Girah pada malam itu bagaikan kejatuhan bintang dari langit yang jumlahnya ribuan. Memang sungguh-sungguh digjaya mereka semua. Tidak beberapa lama pertempuran di malam hari berlangsung, serangan dari para jawara Kediri dapat dipatahkan oleh ketangguhan dari ilmu yang dimiliki oleh murid-murid Calon Arang. Sedangkan, Ki Patih Madri gugur dalam peperangan melawan Nyi Larung dan para jawara Kediri banyak yang tewas. Para jawara Kediri yang masih hidup berhamburan berlari meninggalkan arena pertempuran karena terdesak. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri. Setelah mengalami desakan dari pasukan leak murid-murid Calon Arang, maka para jawara Kediri memutuskan untuk berbalik dan kembali ke Istana Kediri, serta melaporkan semuanya kehadapan Prabu Airlangga.

Kekalahan pasukan Kediri menyebabkan pasukan leak Calon Arang bergembira. Mereka semua tertawa ngakak yang suaranya nyaring dan keras membelah angkasa. Suaranya mengalun, melengking memenuhi angkasa dan berpantulan di antara bukit-bukit. Sehingga terasa mengerikan sekali suasananya pada malam hari tersebut. Mereka semua menari-nari di angkasa, berwujud bola-bola api saling berkejar-kejaran merayakan kemenangannya.

Diceritakan mengenai perjalanan sisa-sisa pasukan Kediri yang kalah perang. Pada pagi hari mereka telah sampai di Istana Kediri. Segera mereka menghadap Sang Prabu dan melaporkan segala sesuatunya. Demikian pula dengan Sang Prabu yang telah menunggu semalaman dengan harap-harap cemas.

Salah seorang dari pasukan Kediri menghaturkan sembah ke hadapan Sang Prabu. “Mohon ampun Paduka, hamba permaklumkan bahwa murid-murid Calon Arang benar-benar teguh atau kuat. Pasukan Kediri tidak mampu mengalahkannya dan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan dan banyak pasukan yang tewas. Hamba gagal dalam mengemban tugas yang Paduka titahkan. Atas kegagalan tersebut, hamba mohon ampun, dan siap menjalankan hukuman.” Demikian permakluman prajurit Kediri ke hadapan Sang Prabu.

Raja Airlangga yang bijaksana kemudian bersabda, “Wahai prajuri Kediri yang gagah berani beserta semua pasukan, kalah menang dalam peperangan sudah menjadi hukumnya. Yang penting sekarang adalah aku minta engkau agar tidak surut kesetiaanmu terhadap Kediri. Teruskanlah kesetiaanmu terhadap Istana, terhadap Kerajaan Kediri. Janganlah berputus asa, karena masih ada waktu dan masih ada cara lain untuk menumpas Calon Arang beserta dengan antek-anteknya. Gempur kembali Calon Arang. Sang Prabu melanjutkan wejangannya. Harus kalian ingat mengenai Swadharmaning ring payudhan atau kewajiban dalam pertempuran. Dalam Shanti Parwa disebutkan bahwa apabila mati dalam peperangan, maka darah yang mengalir muncrat akan menghapus segala dosamu. Dan Sang Jiwa atau Sang Atma akan menuju Indraloka. Itulah yang hendaknya diingat dan dijadikan pedoman. Semuanya itu adalah merupakan sebuah pengorbanan yang suci atau yadnya yang digolongkan yadnya utama.” Demikian Sang Prabu memberikan wejangan kepada Prajurit Kediri yang hampir putus asa karena kalah perang.

Mendengar wejangan tersebut, para pasukan Kediri merasakan hidup kembali dan bersemangat. Bagaikan diberikan kekuatan bebayon atau kekuatan tenanga dalam, sehingga semangat pasukan tumbuh kembali. Prajurit kemudian berkata, “Baiklah, Tuanku, sangat senang hamba mendengar wejangan tersebut. Sekarang hamba sadar dan yakin akan diri. Hamba akan membela mati-matian dan menyabung nyawa menghadapi Calon Arang beserta dengan murid-muridnya.” Pernyataan Prajurit tersebut dibarengi oleh seluruh pasukan, dan disambut hangat oleh Raja Airlangga. “Baiklah, kalau begitu. Aku sebagai Raja Kediri sangat menghargai kesetiaanmu.”


Buku Rahasia Ilmu Pengeleakan Calon Arang

Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calon Arang, maka Raja Kediri sangat panik. Sehingga, Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerajaan) yaitu Pendeta Kerajaan Kediri yang bernama Empu Bharadah yang ditugaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug sebagai ulah onar si Ratu Leak Calon Arang.

Empu Bharadah, lalu mengatur siasat bagaimana caranya Empu Bahula putra Empu Bharadah ditugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik Janda sakti itu. Empu Bahula berhasil mencuri buku tersebut berupa lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik-teknik pengeleakan.

Setelah Ibu Calon Arang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memanfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura-pura kawin dengan putrinya. Sehingga, berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calon Arang. Ibu Calon Arang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu, yaitu sebuah kuburan yang arealnya sangat luas yang ada di Kerajaan Kediri.

Pertempuran Penguasa Ilmu Hitam dengan Penguasa Ilmu Putih di Setra Ganda Mayu
Dalam perang besar ini Raja Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kediri dalam menghadapi Calon Arang dan pasukan leaknya. Para Pasukan Balayuda Kediri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calon Arang dan antek-anteknya.

Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia. Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan. Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok. Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kediri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.

Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kediri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis. Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Girah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.

Diceritakan kemudian Ibu Calon Arang di rumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian. Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai asep menyan majegau atau wangi-wangian yang dibakar yang asapnya membubung ke angkasa, seolah-olah menyampaikan niat Ibu Calon Arang ke hadapan Ida Betari. Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calon Arang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran. Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugerah kesaktian dan kesidian ke hadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kediri dapat dikalahkan.

Setelah beberapa saat melakukan konsentrasi, maka sampailah pada puncaknya. Raja pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga. Calon Arang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya. “Para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga. Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kediri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kediri yang datang ke sini menyerang.” Demikian perintah Calon Arang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian, Calon Arang pun tertawa ngakak, dan terdengar menakutkan.

Semua sisya Calon Arang telah nyuti rupa atau berubah wujud dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada kambing siap nyenggot atau menanduk, ada sapi dan kuda yang siap ngajet atau menendang, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade atau menara pengusungan mayat yang siap membakar, ada babi bertaring panjang yang siap ngelumbih atau membanting dengan kepala, ada awak belig atau badan licin yang mukanya seperti umah tabuan atau sarang tawon. Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calon Arang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kediri.

Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kediri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri. Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.

Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.

Ibu Calon Arang Tewas

Pertarungan pun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam, yaitu Calon Arang dibantu para sisya atau murid-muridnya dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu Pasukan Balayuda Kediri, di Setra Ganda Mayu.

Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Ibu Calon Arang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah. 

Calon Arang terdesak dan sisyanya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kediri. Mengetahui dirinya terdesak, Calon Arang seperti biasa segera menggelar kesaktian pengiwanya. Ia segera berubah wujud menjadi seekor burung garuda berbulu emas, melesat ke udara, dan bersembunyi di balik awan. Ketika itu, Empu Bharadah segera masuk ke dalam rumah Calon Arang . Didapatinya rumah Calon Arang telah kosong, tak ada siapa-siapa. Pasukan Balayuda Kediri mengurung rumah Calon Arang. 

Empu Bharadah kemudian berteriak. “Hai kau Calon Arang pengecut, di mana gerangan engkau bersembunyi. Sudah berwujud apa engkau sekarang, aku akan hadapi. Aku menantangmu, ayolah segera tunjukkan batang hidungmu.” Setelah berkata demikian, tiba-tiba ada jawaban dari angkasa. Rupanya Calon Arang sudah bersembunyi dari tadi, tanpa sepengetahuan pasukan Kediri. 

Calon Arang berkata, “Hai kau Empu Bharadah, di mana bersembunyi rajamu?” Mendengar ejekan si garuda tersebut dari udara membuat Empu Bharadah menjadi naik darah. Segera Empu Bharadah memerintahkan kepada Ki Kebo Wirang untuk membidikan senjata tersebut ke arah si Garuda Calon Arang. Namun ketika itu, Ki Kebo Wirang menjadi kebingungan karena musuh yang akan dibidik tidak kelihatan. Hanya suaranya saja yang berkoar-koar. Ditambah lagi dengan adanya kilat dan guntur yang menggelegar di angkasa. Semakin menyulitkan untuk membidik si Garuda Calon Arang.

Menghadapi situasi demikian, Empu Bharadah mencoba untuk memikirkan sebuah daya upaya. Empu Bharadah kemudian memerintahkan kepada Ki Lembu Tal sebagai umpan, agar si garuda mau keluar dari persembunyiannya. Ki Lembu Tal mencoba untuk mencari tempat yang agak terbuka. Mereka menari-nari sambil mengibas-ngibaskan senjatanya ke udara sebagai pertanda menantang. 

Ki Lembu Tal mengejek si garuda, “Hai engkau Calon Arang, kenapa engkau bersembunyi. Ayo turun, akan aku potong lehermu, akan aku cincang engkau, bila perlu aku jadikan burung garuda panggang. Hai kau Calon Arang, kalau memang engkau sakti mengapa engkau bersembunyi di tempat yang tinggi begitu. Kalau engkau mau, kau boleh hisap pantatku.” Demikian ejekan Ki Lembu Tal yang tidak senonoh, sambil membuka kainnya dan memperlihatkan pantatnya ke arah datangnya suara Calon Arang.

Mendengar dan melihat ejekan Ki Lembu Tal, menyebabkan Calon Arang menjadi naik darah, dan segera keluar dari persembunyiannya. Si garuda Calon Arang dengan secepat kilat terbang dan menyambar Ki Lembu Tal. Pada saat si garuda terbang menyambar Ki Lembu Tal, ketika itu pula Empu Bharadah membidikkan senjata pusaka Jaga Satru dan menembakkannya ke arah sang garuda. 

Si garuda jelmaan Calon Arang tersebut terkena tembakan senjata Jaga Satru dan jatuh tersungkur ke tanah. Segera si garuda mengambil wujud kembali menjadi manusia sosok Calon Arang. Ratu Leak Calon Arang yang sakti mandraguna tidak berdaya dengan kesaktian senjata pusaka Jaga Satru Empu Bharadah. Semua pasukan Balayuda Kediri segera mendekati Calon Arang yang tidak berdaya. Kemudian, Calon Arang menghembuskan napas pungkasan di Setra Ganda Mayu. Dengan meninggalnya Ibu Calon Arang maka bencana gerubug (wabah) yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi. [the end]

Sumber : http://ceritapendekhoror.blogspot.com

Ilmu-ilmu Sihir di Kitab Calonarang

Leak, mahluk jejadian berujud kepala berikut isi jeroan yang melayang mencari korban sangat populer di Bali. Banyak laporan yang jadi saksi mata soal penampakan Leak ini. Tak heran, setiap bulan mati (malam tanpa bulan) selalu ada ritual khusus di pura-pura guna melindungi umat dari gangguan Leak.

Leak dipercaya sebagai jelmaan orang yang menguasai ilmu 'hitam'. Leak juga dipercaya dapat membunuh manusia secara singkat, atau secara perlahan dengan penderitaan yang berkepanjangan.
 shadowness.com
 
Dari mana asal-muasal Leak? Konon, Leak memiliki kisah panjang sejak jaman kerajaan di Indonesia. Dikisahkan pada masa pemerintahan Airlangga (1006 - 1042 M) di Jawa Timur, hidup seorang janda sakti mandraguna bernama Dayu Datu dari Desa Girah. Desa ini terletak di wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Dayu Datu inilah yang kemudian dikenal sebagai Calonarang.

Calonarang menuliskan semua ilmu sihirnya kedalam sebuah "Kitab" - yang oleh pengikutnya disebut Kitab Calonarang. Namun kemudian, Mpu Bharadah berhasil mengalahkan Calonarang dan mengamankan kitab tersebut agar ilmunya tidak tersebar luas.

Semestinya masalah selesai di sini bila saja murid-murid Calonarang ikut dibunuh. Sayang, mereka berhasil melarikan diri ke Bali. Ilmu yang pernah mereka pelajari dari sang guru akhirnya dilestarikan hingga kini kita menyebutnya sebagai Leak.

Yang menarik adalah pada masa itu, agama yang populer adalah agama Budha aliran Tantrayana. Tantrayana mengajarkan cara pintas menuju Moksa. Upacara yang dilakukan antara lain menari-nari di atas kuburan dengan iringan musik (instrumen kangsi dan kemanak) sambil minum darah dan makan daging mayat yang dilakukan pada malam hari bertelanjang badan.

Ajaran ini kemudian juga dianut oleh raja Kertanegara (1268-1292 M) dari Singasari. Dengan cara demikian terjadilah pertemuan jiwa antara pelaku upacara dengan dewanya (lihat juga naskah Tantu Panggelaran disertasi dari Th. Pigeud 1924). Meskipun Ajaran Tantra dimasudkan untuk kebaikan bukan kejahatan, tapi diyakini Calon Arang juga melakukan ritual yang serupa yang dia lakukan untuk menyembah/memohon pada Btari Durga, yang notabene adalah salah satu dewi agama hindu. Sinkritisme?
Leak: Ilmu Aliran Kiri

Dalam semua kepercayaan, kata "kiri" selalu berkonotasi buruk, atau melawan mainstream. Demikian juga pada masyarakat Bali, kata "kiri" juga termasuk menggolongkan ilmu-ilmu atau ajaran yang bertentangan dengan norma dan agama. Dalam hal ini, Leak atau ilmu Pengeleakan digolongkan ke dalam "Aji Wegig". Aji berarti ilmu, dan wegig yakni sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya negatif, maka ilmu ini disebut "Ngiwa" (     Ngiwa asal katanya kiwa (Bahasa Bali) artinya kiri.     Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri).
beritabali.com
Ilmu leak ini bisa dipelajari pada lontar – lontar yang memuat serangkaian Ilmu Hitam. Lontar –lontar atau buku – buku jaman kuno yang terbuat dari daun pohon lontar yang dibuat sedemikian rupa dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 3 cm, diatas lontar diisi tulisan aksara Bali dengan bahasa yang sangat sakral.

Murid2 Calonarang yang melarikan diri ke bali menuliskan Ilmu Pengleakan pada kitab lontar dan membuatnya dalam empat kitab yaitu :

    1. Lontar Cambra Berag,
    2. Lontar Sampian Emas,
    3. Lontar Tanting Emas,
    4. Lontar Jung Biru.

Ilmu leak itu sendiri terdiri dari beberapa tingkatan:

1. Ilmu Leak Tingkat Bawah.
Orang yang bisa ngeleak di tingkat ini bisa merubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, babi betina (bangkung) dan lain – lain.

2. Ilmu Leak Tingkat Menengah
Orang yang bisa ngeleak pada tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Burung Garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa keluar api, juga bisa berubah wujud menjadi Jaka Tungul atau pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan bau busuk yang beracun.

3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi
Orang yang bisa ngeleak tingkat ini sudah bisa merubah wujudnya menjadi Bade yaitu berupa menara pengusungan jenasah bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar – jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Masih untung, ilmu-ilmu tadi hanya sebagian dari apa yang diingat oleh murid-murid Calonarang dulu. Sementara kabarnya, isi kitab Calonarang itu sendiri jauh lebih mengerikan. Jadi bisa dibayangkan bila kitab itu ditemukan...


Read more: wisbenbae: Ilmu-ilmu Sihir di Kitab Calonarang 

10 Perjalanan Ter-extreme Sepanjang Sejarah

Perjalanan panjang dan jauh mungkin akan cukup melelahkan bagi kita namun tidak dengan 10 orang ini mereka melakukan perjalanan panjang demi memenuhi hasrat kepuasan dalam perjalanan merka namun perjalan 10 orang berikut ini bukan perjalanan biasa ke extremeanya dalam melakukan perjalanan lah yang membuat mereka luar biasa. Mau tahu perjlanan seperti apa aja itu simak 10 Perjalanan Manusia Paling Extreme berikut ini.

1. Pendeta Baptis Merangkak 1.600 Mil ke Gedung Putih.


Pada tahun 1978, Hans Mullikin seorang pendeta yang berusia 39 tahun tiba di Gedung Putih setelah merangkak 1.600 Mil dari Marshall, Texas. Kakinya terbungkus bulu dan berselubung dalam baja galvanis tipis, salah pada lengan kursi rodanya lebih kecil dari yang lain untuk mengimbangi dalam berjalan. Pada November 1978 ia mengakhiri dua setengah tahun merangkaknya hanya untuk mendengar dari seorang pembantu bahwa Presiden Carter terlalu sibuk untuk melihatnya. “Aku hanya ingin menunjukkan kepada Amerika bahwa kita perlu berlutut dan berdoa” kata Mullikin kepada wartawan. “Ini adalah sesuatu yang saya miliki dalam hati saya dan ingin saya lakukan untuk negara saya”.


2. Orang Australia Yang Mengelilingi Dunia Dengan Kendaraan Amphibi.


Ben Carlin, seorang warga Australia, mengambil tantangan untuk mengelilingi dunia dalam sebuah mobil jip amphibi yang dimodifikasi. Dia berangkat dengan Elinore istrinya pada tahun 1950. Instrinya akhirnya sadar dan keluar ekspedisi di suatu tempat di india pada sekitar ¾ perjalanan. Tapi Ben meneruskan perjalanan dengan teman-teman lainnya yang akhirnya menyelesaikan perjalanan pada tahun 1958. Perjalanan dimulai dan berakhir di Montreal, Kanada. Butuh waktu 8 tahun, mencakup 62.000 Km di darat dan 17.000 Km di laut.

3. Orang Yang Menyelesaikan 4.115 km Mendorong Gerobak Untuk Mengumpulkan Uang Untuk Penelitian Kanker


David Baird menyelesaikan perjalanan Herculesnya selama 112 hari mendorong gerobak sorong di seluruh Australia (yang menempuh jarak 4.115 km atau 2.557 mil dengan berjalan kaki). Dia melakukan ini untuk mengumpulkan uang guna penelitian kanker payudara dan prostat. Pria berusia 65 tahun ini mengatakan dia merasa “luar biasa baik”, mengingatkan bahwa ia telah menempuh 4.115 km dengan berjalan kaki. Dia berlari setara dengan seratus lari marathon penuh hanya dalam 112 hari. Melewati sekitar 70 kota di sepanjang jalan, Baird mengatakan bahwa ia mendorong gerobak antara 10 sampai 12 jam sehari. Ia tidak pernah ragu bahwa ia tak akan menyelesaikan perjalanannya, ia mengaku setiap hari adalah “keras”. Upaya amal ini berjalan dengan baik dan simpatisan melemparkan lebih dari $20.000 ke dalam gerobak itu.


4. Orang Yang Benar-Benar Berlari Mengitari Seluruh Dunia.


Pelari inggris Robert Garside, yang juga dikenal sebagai “Runningman”, dinobatkan oleh Guinness World Record sebagai orang pertama yang berlari mengelilingi dunia. Garside mulainya rekor berjalan setelah beberapa percobaan yang dibatalkan untuk meninggalkan Cape Town, Afrika Selatan, dan London, Inggris. Akhirnya Garside berangkat dari New Delhi, India pada tanggal 20 Oktober 1997, dan menyelesaikan larinya pada titik yang sama pada tanggal 13 Juni 2003. Upaya Garside ini telah dipertanyakan oleh para pelari lainnya dan juga pers. Karena kesulitan yang melekat sertifikasi rekening tersebut, Guinness World Record menghabiskan beberapa tahun mengevaluasi bukti sebelum menyatakan otentik.


5. Siswa Yang Berjalan 3.000 Kilometer Dari Beijing Ke Jerman Dan Membuat Film Pendek.


Hadiah ulang tahun Christoph Rehage untuk dirinya sendiri pada bulan November 2007 adalah pergi berjalan jauh. Rencananya adalah berjalan dari Beijing, Cina (dimana dia adalah mahasiswa disana) ke rumahnya di Bad Nenndorf, Jerman. Sebuah proposisi yang luar biasa, jika anda mempertimbangkan luasnya Cina.
Sepanjang jalan ia memotret dirinya sendiri dan membuat video. Kita melihat seorang muda, laki-laki yang telah bercukur bersih diubah oleh perualangannya. Ada penderitaan fisik yang jelas terlihat yaitu: salju dan pasir menyala dari gurun Gobi yang panjang, jalan raya kosong, dan rasa sakit yang lamban tak terbatas. Rambut dan jenggotnya tumbuh liar. Rehage menemukan cinta, dan mungkin juga patah hati.
Setelah satu tahun, rehage memutuskan untuk berhenti berjalan dan kembali ke sekolah.


6. Gadis 16 Tahun Yang Mencoba Menyelesaikan Perjalanan Keliling Dunia Sendirian


Seorang gadis berusia 16 tahun, Jessica Watson semakin dekat ke akhir mengelilingi dunianya, sebuah perjalanan yang akan membuat dia menjadi yang termuda dalam mengelilingi dunia seorang diri. Lahir dan dibesarkan di Queensland Sunshine Coast, jessica dijadwalkan tiba di Sydney sekitar 9 Mei untuk menjadi seorang pahlawan yang disambut untuk certitanya untuk dipatenkan. “The Rupert Murdoch Empire” telah memberikan hak paten atas dirinya dan keluarganya. Jessica, yang masih berumur 12 tahun ketika dia mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia ingin berlayar mengelilingi dunia seorang diri, meninggalkan Sydney pada tangal 18 Oktober 2009 yang meskipun tidak dapat menyelesaikan perjalanannya dan harus kembali ke Sydney karena kerusakan mesin setelah menempuh lebih dari 200 hari perjalanan


7. Orang Yang Berjalan 13.000 km Mundur Dari California, Amerika Serikat Ke Turki


Plennie L. Wingo (24 Januari 1895 – 2 Oktober 1993) berjalan mundur dari Santa Monica, California, ke Istambul, Turki (sekitar 13.000 km atau 8.000 mil) sejak tanggal 15 April 1931 sampai 24 Oktober 1932 pada usia 36 tahun. Dia mendokumentaikan perjalanannya dalam buku “Around The World Backwards”.
Untuk melakukannya dia menggunakan kacamata periscopic, yang diikat diatas telinganya seperti kacamata biasa, yang memungkinkan dia untuk melihat dimana ia berjalan. Dia berjalan rata-rata sekitar 20 mil perhari.


8. Orang Yang Berjalan 1.830 mil Diatas Egrang


Pada tahun 1891 Sylvain Dornon, dari Landes, berjalan diatas egrang dari Paris ke Moskow melalui Vilno (1.830 mil) dalam 50 tahap (36,6 mil sehari). Ia memulai perjalanannya pada 12 Maret 1891. Meskipun perjalanan panjang diatas egrang ini merupakan sebuah rasa ingin tahu yang asli, hal ini sebenarnya tidak hanya ada di Rusia, tetapi juga banyak orang Perancis yang melakukannya sebelum tahun 1870-an di bagian tertentu dari Perancis.


9. Orang Yang Bepergian Selama 12 Tahun Dari Afrika Ke Greenland Untuk Menemukan Tempat Bebas Ular


Tete-Michel Kpomassie lahir pada tahun 1941, di Togo. Ketika ia masih muda, ia berada di hutan ketika ia terkejut dengan Phyton, dan jatuh ke tanah. Ayahnya percaya bahwa penyakitnya yang dihasilkan hanya dapat disembuhkan dengan konsultasi kepada pendeta sekte Python, jauh didalam hutan, sehingga ia dibawa kesana pada satu malam yang panjang, ke jantung sekte penuh ular. Obat itu bekerja, tapi pendeta tersebut meminta pembayaran. Kpomassie harus diinisiasi ke dalam kultus ular dan hidup di hutan untuk tujuh tahun, diantara ular.
Pada saat ini, ia telah sembuh dari penyakitnya dan menemukan sebuah buku anak-anak tentang Greenland. Negara ini tidak hanya aneh karena tidak ada ular disana, tetapi juga tidak ada pohon-pohon dimana ular bisa bersembunyi. Dia langsung jatuh cinta dengan negara ini dan kabur dari rumah, dengan ide tunggal entah bagaimana menuju Greenland, dan akhirnya pada pertengahan 1960-an menemukan perahu ke Greenland. Kisah petualangannya di Greenland dapat ditemukan dalam bukunya, yang diterbitkan di Perancis pada tahun 1977, “An African In Greenland”.


10. Orang Yang Pergi Berjalan Lintas Negara Amerika Serikat Untuk Menurunkan Berat Badan.


Steve Vaught melakukan sebuah tantangan yang luar biasa mulai tahun 2005 untuk berjalan di Amerika Serikat. Dia memulai perjalanan 3.000 milnya dari Oceanside, California untuk pulang ke Manhattan pada tanggal 10 April 2005, ketika pada saat itu ia ditimbang seberat 410 pound dan menderita depresi berat setelah tidak sengaja menewaskan dua pejalan kaki saat mengemudi 15 tahun yang lalu. Ia berhasil menghilangkan lebih dari 100 pound berat badannya dalam proses ini. Tetapi perjalanan Vaught itu bukan tanpa kontroversi. Pertanyaan dilontarkan oleh media dan penggemar, apakah Vought rides benar-benar berjalan setiap milnya. Vaught juga masih belum sehat dari obesitas setelah menyelesaikan perjalanannya. Dalam pembelaannya ia berkata “Anda tidak bisa curang, tidak ada cara yang mungkin untuk menipu.. ini adalah perjalananku.. aku tidak peduli tentang dimana aku berada kemana aku akan pergi, aku tidak peduli apakah itu adalah 2.800 atau 1.500 mil.. ini tentang dimana kepala anda”.

SUMBER

Sifat manusia Berdasar Bulan Kelahiran

http://maramissetiawan.files.wordpress.com/2008/07/normal_falak.jpg

Bulan Januari

Wataknya:

-Tenang dan berwibawa

- Suka berterus terang dan tidak suka basa-basi

- Pandai menyimpan rahasia dan bisa dipercaya

- Disukai banyak orang karena selalu kelihatan ceria

- Mandiri dan tidak suka meminta bantuan pada orang lain

- Pandai mengatur keuangan

- Agak pendiam dan lebih senang memperhatikan dirinya sendiri

- Teliti dan tidak sembarangan melakukan pekerjaan.


Bulan Februari

Wataknya:

- Mempunyai hati yang tulus

- Perasaannya peka dan mudah tersinggung

- Senang dipuji dan selalu menuruti apa yang diinginkannya

- Suka humor dan hormat pada siapa saja

- Keras hati dan mempunyai pendirian tetap

- Agak pemalas dan suka mengingkari janji


Bulan Maret

Wataknya:

- Baik hati dan suka menolong sesama.

- Suka kehidupan yang serba wah.

- Seleranya tinggi.

- Tidak tegaan dan selalu memberi pada orang yang kesusahan.

- Agak pemalu, namun jujur dan tidak pernah bohong.

- Mudah terpengaruh dan tidak kuat menghadapi godaan.

- Suka melalaikan kesehatan dirinya sendiri.


Bulan April

Wataknya:

- Tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri

- Pembosan

- Senang dipuji

- Agak boros walau pandai mencari uang

- Mempunyai otak yang cerdas namun tidak suka diperintah

- Tak pernah memilih dalam berteman


Bulan Mei

Wataknya:

- Pandai menguasai perasaan

- Pandai mengambil hati orang lain

- Punya selera tinggi dan senang kehidupan yang serbah wah.

- Senang menunda pekerjaan.

- Agak boros walau rejekinya bagus.

- Tidak suka basa-basi dan tidak senang dipuji.


Bulan Juni

Wataknya:

- Romantis dan suka menolong

- Tidak mempunyai pendirian tetap

- Suka berpikir yang muluk-muluk

- Mudah tersinggung bila perasaanya tersentuh

- Agak pemalas dan baru mau bekerja bila di iming-iming hasil besar

- Selalu ceria walau hatinya sedang kesal.


Bulan Juli

Wataknya:

- Senang berkhayal

- Kalau sudah marah, kata-katanya tajam

- Tidak mempunyai pendirian tetap

- Senang dipuji

- Suka menolong pada sesama

- Pandai bicara dan berotak cerdas

- Agak pemalas


Bulan Agustus

Wataknya:

- Mempunyai perasaan yang peka/halus

- Cepat tersinggung

- Suka menghayal dan berpikiran yang muluk-muluk

- Tidak mudah terpengaruh

- Agak pemalas

- Kalau bekerja lebih menuruti kehendak hatinya sendiri.


Bulan September

Wataknya:

- Mudah tersinggung dan cepat naik darah

- Baik hati dan jujur

- Bisa menyimpan rahasia

- Suka berfoya-foya

- Pandai menyimpan uang namun tidak pelit

- Suka menolong sesama dan pandai mendidik anak


Bulan Oktober

Wataknya:

- Berjiwa besar dan mau mengalah

- Pandai bicara

- Cerdas dan baik hati

- Memiliki tekad yang kuat

- Tidak sabaran dan agak boros

- Pikirannya tidak tetap dan selalu berubah-ubah


Bulan November

Wataknya:

- Tabah dan kuat dalam menghadapi segala cobaan

- Pandai mengerjakan setiap pekerjaan

- Pandai mengambil hati orang lain

- Agak pemalas dan suka menunda pekerjaan

- Banyak berpikir

- Agak pendendam dan tidak mudah memberi maaf pada orang yang bersalah

- Keras hati


Bulan Desember

Wataknya:

- Mudah menaruh rasa percaya pada orang lain

- Kalau mengerjakan sesuatu suka tergesa-gesa

- Tidak sabaran

- Tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri

- Mudah terpengaruh

- Jujur dan baik hati

- Pemborosan dan suka memaksakan kehendak

Recent Posts

comments powered by Disqus