Sayyid Abdullah al-Haddad: Mujaddid Sufi Abad Ke-17

Sayyid Abdullah al-Haddad: Mujaddid Sufi Abad Ke-17
Ilustrasi
Ia dikenal sebagai seorang mujaddid Islam. Meski sejak kecil mengalami kebutaan, ia tak pernah berhenti belajar. Pemikirannya begitu matang dan mudah dicerna masyarakat awam. Ia juga menulis banyak karya dengan tema beragam. Dalam kehidupan beragama, pandangannya dikenal ramah dan toleran. Dialah Sayyid Abdullah al-Haddad.
Ia di lahirkan di kota Tarim Hadhramaut pada 5 shafar 1044 H. Ayahnya, Sayyid ‘Alwi bin Muhammad Al-Haddad adalah seorang yang dikenal alim dan saleh. Ibunya seorang syarifah (keturunan langsung perempuan Nabi) bernama Syarifah Salma. Tidak seperti anak-anak lainnya, al-Haddad menghabiskan masa kecilnya untuk menghafal al-Quran, mujahadah al-nafs, dan mencari ilmu. Itu karena saat berusia empat tahun ia terkena cacar yang mengakibatkan kebutaan.
Sejak kecil, ia sudah tertarik dengan dunia sufi. Bahkan, ia selalu “membaca” kitab-kitab Al-Ghazali atau diwan-diwan para ahli dzauq (para sufi). Pada masa itu, ia sudah mendiskusikan masalah-masalah sufistik yang sulit, seperti mengkaji pemikiran Syaikh Ibn Al-Faridh, Ibn ‘Arabi dan Ibnu ‘Atha’illah. Ia dikenal sebagai murid yang cerdas. Karena itulah, guru-guru al-Haddad selalu memintanya untuk tetap mendampingi ketika majelis sudah usai. Nampaknya, gurunya melihat bakat yang luar biasa pada diri al-Haddad.
Dan memang, isyarat bahwa al-Haddad akan menjadi orang besar sebenarnya sudah diketahui sebelum ia dilahirkan. Suatu ketika, Sayyid ‘Alwi mendatangi rumah seorang ‘Alim bernama ‘Arif billah Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi (kakek dari ibu Al-Haddad). Dalam pertemuan itu, al-Habsyi berkata ”Anakmu adalah anakku, di antara mereka ada keberkahan“. Awalnya, Sayyid Alwi heran mendengar kata-kata ini. Sampai lama, ia tidak mengerti maksud perkataan al-Habsyi. Namun, setelah lahirnya Al-Haddad, ia baru faham. Ia mengatakan, “Aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat ucapan Sayyid Ahmad al-Habsyi. Setelah lahirnya Abdullah, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar al-wilayah (kewalian)”.
Menginjak remaja, pengetahuan al-Haddad tentang sufi kian matang. Bahkan, pemikirannya kerap dijadikan rujukan. Pada usia 25 tahun saja, ia sudah mampu menghasilkan sebuah karya penting. Buku itu bertajukRisalah al-Muzakarah ma’a Al-Ikhwan Al-Muhibbin min Ahl Al-Khair wa Al-Din. Di dalam buku ini ada beberapa nama besar seperti Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Al-Gazhali, dan beberapa pemikiran para ulama salaf. Pada umur yang sama, ia juga menyelesaikan tulisan yang berjudul Risalah Al-Muawanah wa Al-Muzhaharah yang ditulis sebagai konsumsi masyarakat awam.
Tak berhenti di situ, pada usia 27 tahun, al-Haddad diminta salah seorang tokoh dari kota Syibam untuk menulis sebuah buku pegangan bagi para pengikut tarekat shufiyyah. Buku itu menjelaskan dasar-dasar sebagai murid yang baik, dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam mengarungi dunia tarekat. Sejak buku itu dibaca oleh umum, makin terlihat sosok ketokohan Al-Haddad dalam masalah-masalah sufistik.
Makin maraklah pertemuan-pertemuan ilmiyah yang mendiskusikan buku tersebut. Korespondensi seputar masalah sufistik juga mengalir deras. Sebab itulah, empat bulan setelah penulisan buku tersebut, ia menerbitkan karyanya yang lain, Ittihaf al-Sail bi Jawab al-Masail. Kitab itu memuat berbagai macam pertanyaan berkisar tentang makna tauhid dalam kaitannya dengan salik (perambah sufi) dan wasil, tentang masalah hudhur, fana, hubungan antara ilmu dan hal, hal dan maqam, dan sebagainya.
Namun, kedukaan menerpanya. Pada usia 28, ayah al-Haddad wafat. Tak lama kemudian, ibunya menyusul, pada tahun yang sama, 1072 H. Selanjutnya, ia diambil oleh salah seorang gurunya, Sayyid ‘Umar bin Abd al-Rahman al-‘Aththas. Di bawah bimbingan gurunya ini, pengetahuan al-Haddad bertambah luas.
Setelah menulis beberapa kitab, pandangan al-Haddad seputar masalah sufistik mulai jadi perhatian. Di antara pandangan sufistiknya adalah, seseorang baru bisa dikatakan sufi apabila amal, perkataan, niat, dan moralnya bersih (shafa) dari berbagai macam penyakit hati, seperti riya’, sum’ah, dan sejenisnya. Secara lahir maupun batin, ia selalu ingat dan taat kepada Allah, serta memutuskan segala sesuatu yang dapat melupakan-Nya, baik itu berkaitan dengan keluarga, harta, kedudukan, maupun lainnya. Seorang sufi melakukan semua itu dengan berdasarkan ilmu, al-Quran, sunnah, serta tuntunan para salaf, yang sampai ke derajat kesempurnaan sebagai sufi.
Batasan sufi ala al-Haddad ini nampak begitu sederhana. Namun, sejatinya susah untuk dicapai. Kiranya, dengan penjelasan itu, ia hendak menyindir para pengaku sufi yang sebenarnya belum mampu mencapai maqam-nya. Sebab, kebanyakan dari mereka masih menggantungkan diri pada dunia, pada harta, jabatan atau pun kekuasaan. Mereka juga masih menuruti nafsu sehingga susah untuk membersihkan diri dari penyakit hati.
Seakan tak mau berhenti, meski telah menghasilkan banyak kitab fenomenal, al-Haddad terus menulis. Pada usianya yang ke-45, ia menulis al-Nasa’ih Al-Diniyyah wa al-Washaya al-Imaniyyah yang membahas masalah akidah, fiqih, dan akhlak. Pembahasannya mengikuti metode penulis kitab Ihya’Ulum Al-Din sehingga kitab ini terkesan sebagai ringkasan kitab besutan al-Ghazali itu. Menginjak 56 tahun, al-Haddad menulis Sabil al-Idzdzikar bi ma yamurru bi Al-Insan wa Yanqadhli lahu min Al-A’mar. Menurut riwayat lain, kitab itu ditulis pada usianya yang ke 60 atau 63.
Pada usia 70 tahun, al-Hadad mulai menyelesaikan tulisannya tentang berbagai aspek kehidupan, baik sosial keagamaan, politik ekonomi maupun lainnya. Pada usia ke-81, tepatnya pada pagi hari Kamis, bulan Dzulqa’dah, tahun 1255 H, ia menyelesaikan kitab Al-Nafais Al-Uluwiyyah fi Al-Masail Al-Shufiyyah. Kitab sufistik ini dinilai lebih berbobot. Di antara masalah yang dibahas adalah al-khawatir (kecondongan-kecondongan) bagi seorang wasil (yang telah sampai kepada Allah) dalam kaitannya dengan masalah al-farq dan al-jam’u, hukum perbuatan seorang arif, al-qutb atau al-ghaus tentang hukum khalwah, ‘uzlah, tentang libas al-firqah, tentang batasan al-shidq dan derajat al-shiddiqiyah, tentang af’al al-ibad, dan lain-lain.
Di samping kitab-kitab tersebut, masih banyak kitab-kitab lain yang ditulisnya. Di antaranya adalah kitab Al-Da’wah Al-Tammah, kitab Al-Majmu’, kitab Al-Fushul Al-Ilmiyyah wa Al-ushul Al-Hikamiyyah, kitab Al-Nafayis Al-Ulwiyah fi Al-Masayil Al-Shufiyyah, kitab Risalatul Adab Suluk al-Murid, Al-Fatawa, Al-Durru Al-Manzhum li Dzawi Al-Uqul wa Al-Fuhum, Al-Hikam, Tatsbit Al-Fua’d, dan masih banyak lagi.
Syaikh Al-Haddad juga dikenal sebagai penyair dalam diwan syairnya, al-Durru al-Manzhum li Dzawi al-Uqul wa al-Fuhum yang disusun berdasarkan abjad. Salah satu syairnya di-syarah-i oleh muridnya, Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi dalam bukunya Syarh Al-Ainiyyat (syarah syair-syair yang berakhiran huruf ‘ain). Dalam syarah ini terlihat jelas tentang siapa saja yang dianggfap salaf oleh al-Haddad dan beberapa pendapatnya tentang masalah sufistik. Sebelum wafat, al-Haddad sempat membaca kitab Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makky. Al-Haddad dimakamkan di pemakaman Zanbal, yang dikenal juga dengan pemakaman al-Fuqara’.
Al-Haddad dikenal sebagai seorang sufi yang mencapai derajat tinggi dalam tasawwuf, baik hal dan maqal-nya. Ia dikenal sebagai pembaharu Thariqat ‘Alawiyyah. Di tangannya, thariqat itu dirumuskan menjadi lebih sistematis dan jelas sehingga dapat dijadikan langkah dasar untuk mempersiapkan diri memasuki pemikiran sufistik kaum khawwash. Al-Haddad juga mampu meletakkan thariqat alawiyyah sebagai penyeimbang pendidikan riyadhah al-Qulub ala Imam al-Syadzili dan riyadhah al-Abdan ala Imam al-Ghazali.
Semasa hidupnya, al-Haddad mampu menerjemahkan pemikirannya dalam bahasa masyarakat zamannya sebagaimana tertuang dalam karya-karyanya. Ia dikenal sangat toleran terhadap pola kehidupan beragama. Ia merupakan tokoh pada masanya yang mampu menempatkan diri, baik sebagai da’i, syaikh, maupun pemikir, sehingga ia membumi di masyarakat. Karena itulah, banyak yang menganggap al-Haddad sebagai seorang mujaddid abad ke-17, tokoh pembaharu yang datang tiap 100 tahun. (Khoirul Muqtafa)

Telur atau Singkong?

Telur atau Singkong?
Soichiro Honda
Simaklah kisah orang-orang sukses. Sebelum mereka menggapai keberhasilan, rangkaian penderitaan hidup menimpa mereka. Soichiro Honda, misalnya. Keluarganya miskin, wajahnya tidak tampan, fisiknya lemah, dan ia sering jatuh sakit. Akibatnya, Soichiro kerap rendah diri di hadapan teman-teman sebayanya. Selama belajar, tak pernah ia duduk di kursi terdepan, dan selalu menjauh dari pandangan guru. Ia sering mendapat nilai jelek. Berbagai pekerjaan ia lakoni: dari petugas kebersihan hingga mengasuh bayi.
Ketika mulai berbisnis, dua kali pabriknya ludes terbakar. Tapi ia tak putus asa. Soichiro bangkit dari keterpurukan. Hasilnya: Honda menjadi salah satu raja otomotif di dunia, hingga kini.
Dalam hidup ini, kesulitan dan kesenangan ibarat sepasang mata uang yang akan datang silih berganti. Persoalannya, teramat banyak orang yang tak mampu lulus dari penderitaan. Ketika ada masalah sedikit, kita menjadi lemah, tak bersemangat dan putus asa. Padahal, boleh jadi itu adalah cara Allah untuk menjadikan kita kuat, tegar dan sukses.
Persis seperti kalimat pesan pendek yang dikirimkan istri saya. “Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan; bukan apa yang kita inginkan. Kita meminta kekuatan, justru Allah memberi kita kesulitan agar menjadi tegar. Ketika kita meminta kebijaksanaan, maka Allah memberi kita masalah untuk diselesaikan. Di saat kita meminta kekayaan, maka Tuhan memberi kita tenaga dan pikiran untuk bekerja.”
Sayangnya, kerap kali kita tak menyadari itu. Kita ingin segala sesuatunya serba instan. Tak mau ada proses panjang untuk meraih kesuksesan. Tak mau ada kesulitan utnuk menggapai keberhasilan. Tak mau ada duri untuk melewati jalan kemenangan.
Kebanyakan di antara kita lebih suka menjadi singkong daripada telur. Perhatikan baik-baik kedua makanan itu setelah direbus di atas api dan di dalam air panas nan mendidih. Singkong, yang semula keras, menjadi empuk dan lembek setelah direbus. Sebaliknya dengan telur, menjadi keras setelah direbus.
Proses perebusan pada singkong dan telur sesungguhnya adalah ujian, cobaan, atapun kesulitan hidup yang dialami manusia. Setelah selesai proses tersebut, hanya ada dua pilihan: menjadi lembek seperti singkong atau menjadi keras seperti telur. Orang-orang sukses adalah mereka yang memilih menjadi telur. Sedangkan orang-orang kalah adalah mereka yang memilih menjadi singkong. Bagaimana dengan Anda, mau jadi telur atau singkong?

Pribadi Solutif

Pribadi Solutif
Saat ini bangsa Indonesia tengah dirundung oleh berbagai macam problematika kehidupan yang sangat kompleks, mulai dari kemiskinan, bencana alam hingga kemerosotan akhlak. Data jumlah orang miskin sebagai contoh, meskipun menurut BPS mengalami penurunan dari waktu ke waktu, namun angkanya masih sangat tinggi, yaitu berada pada kisaran 31 juta jiwa pada tahun ini.
Demikian pula dengan angka kesenjangan pendapatan yang semakin meningkat dalam kurun waktu satu dekade terakhir, sebagaimana yang diindikasikan oleh peningkatan rasio Gini, dari 0,311 pada tahun 1999 menjadi 0,368 pada tahun 2008 (BPS, 2009).
Yang juga tidak kalah mirisnya adalah terjadinya degradasi akhlak dan moralitas bangsa di semua lini kehidupan masyarakat. Kehidupan bebas dan permisif seolah-olah telah menjadi bagian dari budaya bangsa. Pornografi tidak lagi dipandang sebagai sebuah bentuk kejahatan, tetapi malah dianggap sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang harus dijamin dan dilestarikan.
Kompleksitas persoalan ini kemudian diperparah oleh beragam peristiwa bencana alam yang seolah-olah datang tiada henti. Musibah banjir di Wasior, Papua Barat, yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, semakin menambah daftar panjang bencana alam yang telah menimpa bangsa Indonesia. Akankah kita semua terus menurus terpuruk seperti ini? Tentu saja kita tidak ingin selamanya berada dalam kubangan persoalan tersebut.
Agar kita bisa memecahkan beragam persoalan tersebut, maka keberadaan pribadi-pribadi solutif, yang saling berhimpun dan bekerjasama dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan, menjadi sangat strategis. Pribadi solutif adalah pribadi yang mampu memberikan jawaban terhadap segala persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Melalui sinergi pribadi-pribadi solutif inilah, muncul ha rapan besar bagi perbaikan bangsa ke arah yang lebih baik.
Ada beberapa ciri dari pribadi solutif ini. Pertama, senantiasa memadukan antara proses berpikir dengan berdzikir pada Allah SWT (QS 3 : 190-191). Sinergi dzikir dengan pikir merupakan kunci bagi lahirnya ilmu yang bermanfaat, yang akan memberikan dampak positif, tidak hanya pada individu yang bersangkutan, namun juga kepada masyarakat secara keseluruhan.
Kedua, menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan kejujuran (QS 5: 100), meskipun berada pada situasi yang sangat sulit. Komitmen ini akan melahirkan sikap amanah, yang merupakan pintu utama bagi turunnya rezeki dan keberkahan dari Allah SWT (HR Abu Daud).
Ketiga, memiliki keberpihakan yang kuat kepada kaum lemah. Pribadi solutif adalah pribadi yang memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang sangat tinggi, karena ia meyakini bahwa pertolongan Allah akan turun melalui pembelaan terhadap kaum dhuafa (al-hadits). Bentuk kepedulian tersebut tercermin antara lain dari kesediannya untuk senantiasa berbagi, baik harta melalui zakat, infak dan shadaqah, pikiran maupun tenaga, yang dilandasi oleh keimanan dan keikhlasan karena mengharap ridho Allah semata. Wallahu a’lam.
* Dewan Aqidah dan Syariah ESQ LC, Ketua Umum BAZNAS

Ditemukan, Planet Mirip Bumi yang Layak Huni

Ditemukan, Planet Mirip Bumi yang Layak Huni
Planet Bumi
Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Jarak antara Bumi dengan matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU (Inggris: astronomical unit).
Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer.
Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan mesosfer dan melindungi bumi dari sinar ultraungu. Perbedaan suhu permukaan bumi adalah antara -70 °C hingga 55 °C bergantung pada iklim setempat. Sehari dibagi menjadi 24 jam dan setahun di bumi sama dengan 365,2425 hari. Bumi mempunyai massa seberat 59.760 milyar ton, dengan luas permukaan 510 juta kilometerpersegi. Berat jenis Bumi (sekitar 5.500 kilogram per meter kubik) digunakan sebagai unit perbandingan berat jenis planet yang lain, dengan berat jenis Bumi dipatok sebagai 1.
Hasil pengamatan observatorium MW Keck di Hawaii, Amerika Serikat, selama 11 tahun membuahkan hasil. Para ilmuwan menemukan sebuah planet yang paling mirip dengan Bumi. Planet itulah kemungkinan bisa dihuni manusia.
Seperti dilansir Telegraph.co.uk, 29 September 2010, sebuah tim 'pemburu planet' menamai planet yang paling mirip dengan Bumi itu dengan nama Gliese 581g.
Planet yang ukurannya hampir sama dengan Bumi itu mengorbit dan berada di tengah 'zona huni perbintangan'. Peneliti juga menemukan zat cair dapat eksis di permukaan planet itu.
Ini akan menjadi planet paling mirip Bumi yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Ini juga merupakan planet pertama yang paling berpotensi dihuni manusia.
"Temuan kami ini sangat menarik dan menawarkan kemungkinan bahwa planet ini berpotensi untuk dihuni," kata Profesor Steven Vogt di University of California.Sebelumnya, Badan Antariksa AS (NASA) juga menemukan planet mirip bumi, Kepler 9.
Gliese 581g ditemukan berdasarkan observasi yang dilakukan menggunakan teknik tercanggih yang dikombinasikan dengan teleskop 'kuno'.   
Yang paling menarik dari dua planet Gliese 581g adalah, dia memiliki massa tiga sampai empat kali dari Bumi dan periode orbit hanya di bawah 37 hari. Volume massa itu menunjukkan bahwa planet itu kemungkinan merupakan planet berbatu dengan permukaan tertentu. Itu juga menunjukkan bahwa planet itu memiliki gravitasi yang cukup.
Gliese 581g terletak dengan jarak 20 tahun cahaya dari Bumi, tepatnya berada di konstelasi Libra. Posisi planet ini, satu sisi selalu menghadap bintang dan memiliki suhu panas yang memungkinkan manusia untuk berjemur secara terus-menerus di siang hari. Di bagian samping yang menghadap jauh dari bintang, berada dalam kegelapan yang terus-menerus.
Para peneliti memperkirakan rata-rata suhu permukaan planet ini antara -24 dan 10 derajat Fahrenheit atau -31 sampai -12 derajat Celsius. Suhunya akan sangat terik saat posisinya menghadap bintang dan bisa terjadi pembekuan saat sedang gelap.
Menurut Profesor Vogt, gravitasi di permukaan planet itu hampir sama atau sedikit lebih tinggi dari Bumi, sehingga orang dapat dengan mudah berjalan tegak di planet ini.
"Faktanya, kami mampu mendeteksi planet ini begitu cepat dan sangat dekat. Ini memiliki arti bahwa planet seperti ini benar-benar berciri umum, seperti Bumi," jelasnya.
Prof Vogt dan Paul Butler, dari Carnegie Institution di Washington, mengatakan temuan-temuan baru tim itu dilaporkan dalam sebuah makalah yang akan diterbitkan dalam JurnalAstrophysical. (vvn/git)

Recent Posts

comments powered by Disqus