Temenan Yuuuk…

Untuk beberapa edisi ke depan, POPsy! kedatangan penulis tamu (bukan tidak mungkin akan menjadi penulis tetap). Namanya *Evi Junita, S.Psi. Ia adalah teman kuliah seangkatan saya di Psikologi UI. Sejak lulus tahun 2005, ia aktif bekerja di sebuah klinik terapi bagi anak-anak. Untuk menunjang minatnya di bidang anak, saat ini ia sedang mengambil kuliah pascasarjana psikologi klinis anak di Universitas Indonesia, sambil sesekali menulis artikel di beberapa majalah anak. Oleh sebab itu, tulisan-tulisannya pun akan berisi pembahasan seputar anak-anak. Selamat belajar dan menikmati!
Mungkin Anda menyadari, Si kecil yang dulu ketika sendiri akan merengek minta bermain dengan Anda, kini lebih senang bermain dengan temannya. Ya, usia 6-8 tahun merupakan saat ia berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, melatih kemandiriannya serta mengembangkan minatnya akan sesuatu yang menarik perhatiannya. Saat ini, keterampilan mental, sosial, dan fisik berkembang begitu pesat. Inilah masa kritis baginya untuk membangun kepercayaan diri dalam berbagai hal, seperti olah raga, sekolah, dan tentu saja, dalam berteman.
Berteman adalah kegiatan yang bertujuan untuk membina sebuah hubungan keakraban yang melibatkan kebersamaan dimana setiap individu yang terlibat memiliki keinginan untuk bersama. Kegiatan ini memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan keterampilan social dan kesehatan psikologis anak pada tahap-tahap perkembanganya selanjutnya, karena berteman memiliki beberapa keutungan sebagai berikut:
  • Memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi diri dan sikap memahami orang lain
  • Membantu memperbaiki sikap penyesuaian diri di sekolah dan meningkatkan keterlibatan anak dalam proses belajar mengajar di kelas.
  • Memberikan kesempatan untuk berlatih menghadapi masalah dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
  • Memberikan dasar untuk hubungan interpersonal di masa remaja dan dewasa
Hal-hal diataslah yang menyebabkan berteman merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan anak.
Kenali perubahannya
Bila pada usia-usia sebelumnya keterlibatan unsur kerja sama dalam pertemanan dan bermain belum tampak jelas, maka pada usia ini unsur kerja sama merupakan unsur paling penting dari permainan anak. Hal ini dapat terlihat melalui jenis dan tema-tema permainan yang mereka pilih. Salah satu contohnya adalah jenis permainan pura-pura yang bertemakan rumah sakit dimana ada yang berperan sebagai dokter dan ada yang berperan sebagai suster yang bertugas membantu sang dokter.
Terkait dengan karakeristik kerjasama pada pertemanan dan pola permainan anak, maka pada usia ini anak memiliki kecenderungan untuk memilih menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-temannya. Anak makin  tak tergantung dengan orang tua, ia juga mulai memperhatikan teman-temannya, ia mulai belajar memilah yang mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak boleh, serta ia mulai memiliki keinginan lebih untuk diterima dan disukai oleh lingkungan sekitar.
Mencari teman
Usia 6-8 tahun merupakan usia awal anak duduk disekolah dasar. Kebutuhan untuk memiliki teman dilingkungan sekolah meningkat. Mereka mengenali dirinya sendiri dan kemampuan yang dimilikinya dari umpan balik yang didapat dari temannya, dimana reaksi teman akan berpengaruh dalam proses pembentukan gambaran diri anak. Misalnya, jika teman-teman menyukai hasil gambarnya, ia akan percaya diri dan menganggap dirinya artistik, atau jika teman-temannya tertawa karena celetukannya, anak akan menganggap dirinya lucu.
Pada usia ini juga, anak-anak cenderung memilih dan membandingkan teman-teman yang ada disekitarnya. Mereka cenderung memilih teman yang pola bermain, aktivitas, hobi, dan sifat yang sama. Sebagai orang tua, kita perlu memfasilitasi kebutuhan anak untuk berteman. Namun frekuensi dan intensitas pertemanan yang terjadi, sebaiknya kita kembalikan kepada kemampuan dan minat anak untuk terlibat dalam hubungan keakraban dengan teman-temannya yang lain. Tidak semua anak akan memiliki banyak teman dan menjadi anak yang popular diantara teman-temannya. Ada anak yang bahagia hanya memiliki satu orang sahabat dekat. Selama teman-temannya membawa pengaruh positif, maka kita tidak perlu melakukan intervensi.
Cari teman yang positif
Usia 6-8 tahun merupakan usia ketika anak belajar bekerja sama, berkompetisi, berbagi serta belajar mengatasi konflik. Mereka berlatih untuk saling mendukung atau berkompetisi hampir dalam setiap hal yang menarik perhatian mereka. Jika buah hati Anda memiliki sahabat yang hobi membaca, maka ia pun akan belajar menyukai buku. Begitu juga, jika sahabatnya seorang pemain bola hebat, ia akan belajar lebih keras agar dapat menyamainya.  Kesulitan akan muncul, jika sahabat dekatnya membawa pengaruh negatif. Misalnya ia memiliki sahabat yang terlalu mendominasi dan cenderung menjadikan anak Anda “kaki tangannya” atau teman dekatnya adalah si trouble maker di kelas. Jika ini terjadi, bagaimana cara untuk mengatasinya ya? Berikut adalah beberapa cara yang dapat anda jadikan referensi dalam melakukan intervensi.
Tanyakan bagaimana ia menilai tindakan temannya dan bagaimana cara ia mengatasinya efek negative dari tindakan temannya tersebut.
Undanglah teman-temannya yang menurut Anda dapat membawa pengaruh positif  dan ikutsertakan mereka dalam aktivitas Anda dan si kecil.  Ingat juga untuk menyertakan teman yang memberikan pengaruh negative. Biarkan anak untuk membandingkan dan mengevaluasi hasil yang ia dapat setelah menghabiskan waktu bersama-sama dengan teman-temannya.
Bila ada kesempatan ngobrol dengan anak, ceritakan alasan mengapa Anda khawatir dengan teman bermainnya itu. Lebih baik spesifik menyebutkan perilaku yang Anda tak sukai daripada mengkritik temannya. Contohnya, jelaskan mengapa Anda tak suka sikap memaksa si A dan apa akibat dari sikap itu, daripada mengkritik A bukan teman yang baik.
Jangan paksa si kecil “bercerai” dengan teman bermainnya, lebih baik Anda menjelaskan konsekuensi jika anak mengikuti perilaku temannya itu dan jelaskan mengapa perilaku itu tidak baik.  Biarkan anak merasa percaya diri dan memutuskan pilihannya sendiri.
Libatkan teman yang memberikan pengaruh negatif pada si kecil dalam aktivitas positif anda dan si kecil.
Jika ia tak punya teman
Oo, bagaimana jika justru anak tidak mempunyai teman? Mungkin ia terlalu pemalu atau justru anak Anda yang menjadi “si trouble maker” dan dijauhi teman? Pahamilah bagaimana anak seusianya berpikir dan berperilaku. Coba tempatkan diri anda diposisinya.
Dengan cara yang halus, cari tahu mengapa ia tak punya teman, misalnya dengan bertanya “Siapa teman yang kamu ingin ajak berteman?” atau “Apa yang kamu khawatir dari teman-temanmu?” tentu pada saat yang tepat. Sebab, jika si kecil tahu Anda cemas, ia justru akan menarik diri atau malah menyangkalnya.
Bicarakan dengan gurunya, amati teman-temannya, dan dengan berbagai informasi yang sudah Anda kumpulkan, duduklah bersama dengan si kecil dan obrolkan tentang berbagai kesulitannya mencari teman.
Tinggikan rasa percaya dirinya dengan bercerita tentang kelebihan-kelebihannya dan mungkin ia bisa memanfaatkannya untuk bertemu dengan teman yang memiliki hobi yang sama
Sarankan ia mengundang teman yang disukainya dan bicaralah bersama bagaimana cara agar mendapat teman
Jika ia tetap saja kesulitan mendapatkan teman,bicarakan dengan dokter anak atau psikolognya. Sekali ia telah berhasil mendapatkan kepercayaan diri dan cara untuk mendapatkan teman, maka ia akan merasakan senangnya memiliki teman.
Referensi:
Berk, Laura E. (2003). Child Development 6th ed. New York: Allyn and Bacon
Tedjasaputra, Mayke S. (2001). Bermain, Mainan dan Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: P.T. Gramedia
*Evi Junita, S.Psi
Terapis anak, mahasiswi pascasarjana psikologi klinis anak  Universitas Indonesia

Recent Posts

comments powered by Disqus